Candlestick pattern yang selama ini digunakan dalam analisa teknikal pasar modal ternyata berasal dari Jepang sekitar 100 tahun sebelum orang barat menemukan metode analisis saham. Pada tahun 1700-an, seorang pria Jepang bernama Homma yang pekerjaannya sebagai trader di pasar berjangka, memperkenalkan teknik yang saat ini diberi nama Candlestick. Dia mengamati pergerakan harga beras, pada awalnya, meskipun dia percaya bahwa harga beras terbentuk atau dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan beras, namun dia memiliki keyakinan bahwa harga beras juga dipengaruhi oleh emosi trader. Dia juga memahami bahwa ketika emosi masuk ke dalam persamaan (permintaan dan penawaran), maka harga beras yang terbentuk menjadi sangat berbeda dengan nilai sesungguhnya dari suatu barang. Perbedaan antara nilai dan harga seperti ini saat ini berlaku seperti layaknya harga saham. Prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh Homma ini menjadi dasar dalam analisis candlestick yang digunakan untuk mengukur emosi di pasar modal.
Teknik charting ini telah menjadi populer dikalangan para trader,karena penggunaannya mencerminkan pandangan jangka pendek, kadang-kadang berlangsung kurang dari 8 ataupun 10 sesi perdagangan. Chandlestick chart sangat kompleks dan terkadang sulit untuk dipahami. Dengan Candlestick, kita melihat pola candle apa yang terbentuk dan apa interpretasi untuk saham akan terlihat dari pola candle yang terbentuk.
Candlestick Components
Candlestick memiliki beberapa bagian, yang pertama adalah "real body", real body menunjukkan rentang perdagangan antara pembukaan dan penutupan harga perdagangan dalam satu sesi. Jika real body berwarna hitam (berisi), menunjukkan bahwa harga penutupan lebih rendah dibanding harga pembukaan. Jika real body tidak berwarna, atau kosong, maka harga penutupan lebih tinggi dibandingkan harga pembukaan.
Perhatikan gambar berikut :
Tepat di atas dan di bawah real body, ada garis seperti sumbu, biasanya para trader menganggap bahwa itu adalah bayangan yang mencerminkan harga tertinggi dan terendah dalam perdagangan hari itu.

No comments:
Post a Comment